Kata 'Kita'

Pagi hari pukul  04.00 WIB.

Punggungnya ia sandar di dinding kamar berukuran standar,  kedua tangannya memeluk boneka panda berkepala bundar, kedua telinganya menikmati kicau burung yang terkurung di dalam sangkar. Ia tertidur selama tujuh jam semalam, pulasnya hanya satu jam lamanya.

Tak lelap, pikirannya terusik di tengah gelap, di tengah lampu yang sengaja tidak dinyalakan. Alam bawah sadarnya tertuju pada satu masa dimana ia bersama seseorang yang kini dijauhkan Tuhan.

Bukan. Seseorang itu bukan berarti telah tiada. Hela napasnya masih berderu, detak jantungnya masih berdegup, kelopak matanya masih berkedip, dan kedua kakinya masih mengambah bumi. Hanya radarnya saja yang tidak terdeteksi diantara manusia-manusia yang ia jumpai.

Jauh. Satu kata yang menggambarkan ia dengan seseorang itu.

Asing. Adalah kata yang lahir sebagai akibat dari jarak yang sebenarnya tertempuh, namun temu tak menjamin menghadiahkan dekat yang menjadi saling. Saling bertukar sapa, saling mengumbar senyum, saling berjabat rindu, saling beradu bincang, dan saling-saling lainnya. Yang mungkin saling diam adalah satu-satunya opsi tertepat. Setelah sikap pura-pura tidak mengenal diperlagakkan. Pura-pura tidak acuh dipersandingkan. Dan pura-pura mengalihkan pandang diberlakukan.

Seasing itu. Sekikuk itu. Sekagok itu. Sebuah pertemuan yang mengisyaratkan jika dekat pun tercipta sekat tak kasat, seakan memisah dua orang yang sama-sama berlari pesat di satu tempat, yang menyumpah serapah siapapun yang menghambat laju menjadi lambat, hingga khawatir upayanya untuk menghindar justru berakhir gagal dan kembali memikir siasat, bagaimana agar temu tak lagi sempat?

Pencar. Satu kata yang menggambarkan ia dengan seseorang itu.

Ia adalah aku dan seseorang itu adalah kamu.

Sedangkan waktu adalah saksi jika aku dan kamu tidak mengenal kata ‘Kita’.

Dimana detiknya menyaksikan aku dan kamu yang tumbuh bersama, namun tak akan menua bersama.

Dimana detiknya menyaksikan aku dan kamu yang akrab semasa kanak-kanak, namun renggang semasa dewasa.

Dimana detiknya menyaksikan aku yang menumbuhkan rasa, dan kamu yang membenamkan rasa.

Dimana detiknya menyaksikan aku yang ragu mengutarakan, dan kamu yang sungkan membicarakan.

Dimana detiknya menyaksikan aku yang sok berani memberi hati, dan kamu yang naasnya tak bereaksi. Memilih merangkul seseorang lain dalam gandengan, menyisa cemburu dihadapku yang memupus harapan, ketika kamu dengan seseorang lain itu berstatus pasangan.

Rupanya rasaku bertepuk sebelah tangan. Rencana berdua bersamamu sebatas angan-angan. Lalu menganggapmu sekadar teman ialah tindakan yang selamanya aku canangkan.

Bukan teman hidup, bukan teman semati, tapi hanya teman. Kata ‘Kita’ memang mustahil ada diantara aku dengan kamu si pematah hati. Kita saling memadu kasih misalnya. Mustahil.

Pukul 04.45

Aku beranjak dari tempat tidur. Selesai menilik masa lalu. Saatnya menyambut masa baru.

Tanpa kata 'Kita', karena kamu sudah dengannya, seseorang lain yang seharusnya aku.




Cr. Ottokim

Komentar