Melupa yang Bukan Siapa-Siapa


Kala fajar datang.

Awan menampak, matahari menyinar. Cerah.

Aku menampik, hari-hari ingar-bingar. Gerah.

Ada satu orang di seberang jalan menyeberang jalan. Satu orang lagi di pelipir jalan memarkir kendaraan.

Saling melatarbelakang, aktivitas keduanya tak luput dari amatan seorang aku yang duduk termenung di bawah atap halte bersama satu orang nenek-nenek yang sama-sama menunggu bus berikutnya datang. Satu menit sebelumnya bus penuh penumpang melipir di halte, namun berdesakan adalah alasan enggan bergabung menjadi penumpang. Tak dapat tempat duduk tak mengapa, sesaknya yang tak aku suka. Lebih suka kondisi bus yang longgar, tak himpit-himpitan, tak saling egois dan pastinya mendapat kursi ternyaman di dekat jendela, dimana aku leluasa memandangi objek yang dilalui dari balik kaca.

Aku tahu bus akan lama tibanya, tapi tidak masalah karena aku tidak sedang tergesa-gesa. Di sebelah kanan, sang nenek dengan memangku kantong belanjaan berulangkali menawari cemilan dan aku berulangkali menggelengkan kepala. Sang nenek berulangkali menanyai macam-macam dan aku berulangkali menjawab sesopannya.

Hingga muncul satu orang baru yang ikut duduk dan sibuk berkutat dengan ponselnya. Turut menunggu bus yang sudah limabelas menit berlalu tak kunjung pula tampak.

Ternyata aku mengenalnya.

Boro-boro basa-basi terlontar untuk sekadar meriuh kabar, bus keburu datang. Nenek-nenek itu naik, seseorang itu naik. Aku tetap tinggal.

Sengaja.

Aku tidak ingin terjebak bersamanya.
Seseorang yang dulunya ingin sekali kuajak pulang bersama, bercengkerama lama-lama, dan menyimak lamat-lamat. Yang bahkan belum terwujud keinginan itu, sudah memiliki ingin baru untuk melupakannya. Seseorang yang kukagumi diam-diam dalam radius beratus meter, dalam tenggat beratus sekon.

Ada masa sebelum tekad melupa, jari ini mengadu keberanian untuk mengirim sebuah pesan singkat yang beruntungnya ia balas. Terus berulang, tak lama berselang, pesan singkat itu menjadi rutinitas.

Kukira aku yang membalas pesannya dengan cepat terlalu kentara menyimbol ketertarikan, karenanya aku sedikit memberi jeda sembari memikirkan apa yang akan dibahas setelahnya. Selalu aku memang. Yang bertugas mencari topik dan ia yang mengulur topik. Dimana aku selalu girang pada balasannya yang tak pernah garang walau pesanku terkadang garing. Namun apakah rutinitas ini membuatnya bosan hingga alur percakapan tak semenyenangkan pada mulanya?

Dan desusnya, desusnya, ternyata ia sudah ada yang punya.

Karenanya aku berhenti. Memutuskan berhenti. Benar-benar berhenti.

Menjadi pihak ketiga tidaklah minat, tidak pula berbakat untuk menjadi perusak hubungan dua orang yang sangat kusesali aku mendambai salah satunya.

Mendamba ia yang kemungkinan tidak mendamba balik hanya menumbuh penat. Seolah bergulat dengan harapan yang giat merapal ekspetasi indah tapi realita tak seirama. Batin dan logika saling berdebat, yang satu beramsumsi bahwa merelakan adalah jalan tertepat, sedang satunya lagi menyuara kontra bahwa merelakan adalah jalan penghambat, dimana siklus perasaan belum mencapai titik tujunya untuk memenangkan hatinya, malah sudah merasa kalah.

Kembali ke masa kini. Bus itu perlahan melaju, menepis seseorang didalamnya yang bertemu pandang dengan mataku barang sekejap dan ku oleh-olehi ia segaris senyuman.

Aku gagal melupakannya, karena aku masih ingat siapa namanya. Namun aku tidak gagal merelakannya. Seseorang yang bahkan belum sempat aku perjuangkan lebih, terpaksa melangkah mundur karena jalan yang harus dilalui teramat tebih. Dan belum sempat aku memberi tahunya tentang rasa, sudah menyerah untuk mengakui rasa.

Lalu tunggulah pada akhirnya, di kemudian hari aku lupa pernah ada rasa, untuknya, seseorang yang bukan siapa-siapa. Yang mungkin mengingatku sebagai mantan pengagum jauhnya.


Cr. Ottokim







Komentar