Aku pernah begitu mencintai tanpa tahu begitu dicintai, oleh seseorang selain pihak keluarga, tentunya.
Aku pernah begitu terluka tanpa tahu cara melukai, oleh seseorang yang sebut saja kamu, semestinya.
Aku pernah menjadi korban atas patah hati dimana ada dua pelaku utama; kamu, juga diriku sendiri.
Jika kamu pelakunya, kamu melukaiku dengan tidak sengaja. Semisal saat kamu mengabaikanku, mungkin karena kamu tidak tahu atas rasa yang tumbuh diam-diam. Kamu tidak tahu ada seorang yang mendambamu dalam bungkam. Kamu tidak tahu tentang seorang yang mendoakanmu malam-malam, sehingga lukaku ini bukan salahmu sepenuhnya.
Lalu jika aku pelakunya, aku melukai diriku dengan sengaja, sudah tahu rasa yang dibiarkan tumbuh diam-diam itu berrisiko, tetap saja ngotot aku lakukan. Sudah mewanti-wanti; jatuh cinta itu rentan uring-uringan, rentan memicu lara, dan herannya masih saja aku lakukan.
Banyak orang memilih merahasiakan rasa, menyembunyikan asa tentang ingin dan angan menjadi sepasang. Dari banyaknya orang itu salah satunya adalah aku. Si kaku yang yang memiliki rutinitas memendam, mahir memendam, dan hobi memendam. Contohnya, asumsi akan bahagia kala melihat gelak tawa dan celoteh lucumu. Cemburu kala melihat gesture dan interaksimu dengan yang lain, atau ikut sedih kala raut wajahmu menggambarkan keadaan ‘tidak baik-baik saja’. Bisaku hanya memendam, segala emosi hanya kuredam.
Aku berani jujur terhadap perasaanku sendiri hanya pada lembar microsoft word. Disana kuutarakan rasa dengan bar-bar, tentang aku yang mencintaimu sudah bukan rahasia lagi, melainkan menjadi cerita yang akan terus bersambung, bab per babnya, menuju ending, yang entah kapan ber-epilog, dan entah bagaimana alurnya, hingga muncul terka-terka, akankah rasaku tersambut pada akhirnya?
Sahabat-sahabatku tidak terlalu tahu atas rasa yang tumbuh diam-diam, gawat nantinya. Mereka akan memprovokasiku agar lekas mengungkap, mereka akan menggodaku ketika kami bersitatap, mereka akan maju paling depan ketika aku labuh meratap, bergalau ria, menyeduh air dalam mata, tak ada selera menyantap, dimana penyebabnya adalah ke-patah-hati-an.
Bunga yang tumbuh diam-diam biasanya liar, tidak ada yang mengasihi selain hujan, dan tidak ada yang memberi kekuatan selain matahari. Ketika Tuhan mengizinkannya berkembang, opsinya ia akan tumbuh sehat oleh sentuhan kupu-kupu, atau layu digerogoti ulat hingga tangkainya patah.
Sama halnya dengan perasaan, tumbuh diam-diam karena sengaja dibiar. Tuhan mengizinkannya berakar. Tertancap pada hati yang apabila dicabut—karena tidak ada simbiosis mutualisme—, lukanya membutuhkan durasi lama untuk sembuh. Ada yang baik-baik saja, ada yang sayu, atau bahkan digerogoti waktu hingga patah karena menyerah. Menyerah menyimpan rasa atau berhenti memiliki rasa?
Yang menyimpan rasa, ia hanya bersabar lebih lama. Tidak paham bersabar untuk apa, apakah untuk mempersiapkan sesi pengakuan cinta, ataukah merencanakan sesi pensiun dari pekerjaan mencintai diam-diam.
Yang berhenti memiliki rasa, ia hanya memilih pulih. Tidak paham alasannya karena apa, apakah karena lelah menjejaki fase penantian,kalah mengarungi fase juang sendirian, atau, sudah memiliki hati baru untuk dicintai disela fase melupakan.
Aku sudah melalui keduanya.
Aku menyimpan rasa sebegitu lamanya, mengujar rasa sebegitu singkatnya. Lantas berakhir berhenti memiliki rasa ketika realita berkata bahwa kamu sudah menemukan seseorang untuk kamu bangun rasa.
Rasaku kamu persilakan, tapi tidak kamu beri jamuan.
Rasaku kamu sambut, tapi kamu luput; tidak ada uluran, tidak dipedulikan karena ada yang lebih penting untuk kamu sibukkan, yaitu hatinya, hati yang kamu cintai.
Rasaku kamu jabat, tanpa niat kamu ikat; tidak ada jalinan, tidak ada kaitan yang menyatukan. karena ada yang lebih genting untuk kamu genggam, yaitu dia, yang kamu nomor-satukan.
Ternyata aku kurang beruntung dalam memilah siapa yang pantas aku cintai, sehinga cintaku yang berharga ini jatuh sia-sia pada hati yang andai saja tidak bersua, mungkin luka dapat dicegah.
Tapi sesal pun percuma. Manusia perlu belajar.
Seperti saat ini, aku belajar mengikhlaskan, bahwa hati akan mendapatkan yang sama-sama. Yang sama-sama mencintai dan sama-sama mendambai, yang sama-sama berjuang dan sama-sama mempertahankan. Bukan hanya sepihak, apalagi tidak saling berhak.

Komentar
Posting Komentar