Merayakan Kegagalan



Begitulah, manusia harus merasakan jatuh agar ia bangkit. 


Sedangkan untuk bangkit, manusia harus punya ambisi. Untuk punya ambisi, manusia harus menetapkan tujuan. Untuk menetapkan tujuan, manusia harus tahu apa yang dia inginkan. Untuk tahu apa yang diinginkan, manusia harus berbicara pada dirinya sendiri.

Setelah tahu keinginannya, manusia memasuki tahap juang. Dimana manusia tidak boleh hanya ber-angan, melainkan harus melakukan. Ya, melakukan upaya penggapaian.

Sebut saja duit, yang berkepanjangan dari Doa, Usaha, Ikhtiar, dan Tawakal. Setelah itu, mari lihat hasil dari upaya penggapaian itu.

Syukurlah jika keinginan kita tergapai dengan mudah. Bagaimana jika gagal?

Silakan kecewa, silakan menangis, dan silakan mengadu pada Tuhan.

Sebab kegagalan adalah proses, sukses adalah akhir. Itu artinya manusia harus kembali bangkit untuk melanjutkan proses, sebelum kemudian mencapai akhir.


Lalu proses apa setelah proses gagal?

Merayakan kegagalan dong. Dalam sebuah perayaan biasanya kita dihadapkan dengan kebebasan, kita bebas makan apa saja yang kita suka, kita pun bebas untuk bersenang-senang.

Sama halnya dalam merayakan kegagalan, kita bebas makan apa saja yang kita suka sebagai bentuk mengobati luka, kita pun bebas bersenang-senang untuk menghalau depresi yang bisa berakibat celaka. Mengobati sedih yang bisa berakibat menuakan muka.

Setelah perayaan, kita akan langsung pulang untuk beristirahat. Sama dengan setelah merayakan kegagalan, kita pun beristirahat dari segala letih akibat usaha yang ternyata belum waktunya untuk berhasil.

Setelah perayaan, kita dihadapkan kembali pada kegiatan sehari-hari. Sedangkan setelah merayakan kegagalan, kita dihadapkan pada pilihan tentang mundur dan menyerah, atau maju dan melangkah.

Pilihlah opsi kedua, karena opsi pertama hanyalah untuk manusia-manusia lemah.

Bacalah profil orang sukses, disana kalian akan temukan jika gagal hanyalah cara Tuhan untuk menguji manusia. Apakah mereka kuat, atau justru sekarat? Kuat lalu bangkit menuju mimpi baru. Atau sekarat karena tak membangun semangat baru.

Bahagialah jika kalian gagal, karena Tuhan sudah menyiapkan kejutan atas rencana yang tidak pernah kalian duga.

Bahagialah jika kalian gagal, karena hasil yang instan tak sebahagia itu untuk dinikmati sebelum dilalui dengan airmata.

Hingga akhirnya, kalian berterimakasih pada kegagalan yang telah mengantarkan kalian ke pintu kesuksesan. Juga berterimakasih pada Tuhan, karena sebenarnya manusia tak sehebat itu dalam memperjuangkan mimpinya tanpa Tuhan yang membantunya.

Saya pun telah merayakan kegagalan. Sekarang yang saya lakukan adalah berproses, karena sukses itu digapai, bukan ditunggu.

Cr. Ottokim

Komentar