Ada dua gadis yang mengaku sahabat tengah berdebat. Salah satunya bercerita tentang kekasihnya yang ia puji sangat tampan. Lantas yang satunya lagi tidak banyak mendengarkan, lebih suka menyela, jengah dengan lontaran demi lontaran mengenai sosok yang katanya sempurna itu, yang dipamerkan sahabat keras kepalanya ini.
Si gadis penyela bertanya apakah kekasih sahabatnya itu memiliki mata panda, jawabannya iya. Lantas ia bertanya kembali tentang penyebab mata panda pada kekasihnya. Katanya, ia terlalu sering begadang untuk menemaninya sampai larut, saling bertukar pesan di layar gawai dan mengucap selamat malam layaknya ritual sebelum tidur.
Dia tampan tapi dia bukan tipeku, ucap si gadis penyela mengambil kesimpulan.
Kadar tampan seorang pemuda itu hanya bonus.
Nilai utamanya terlihat dari kepribadian, hanya saja gadis-gadis diluaran sana sedikit enggan melihat sisi itu. Terpaku pada rupa, terkagum pada paras, terayu pada tampang. Entah baik atau tidaknya itu menjadi opsi kedua. Entah buruk dan tidaknya itu pertimbangan kesekian.
Namun tidak semua gadis.
Ada yang tetap memandang sisi pribadi dibanding raut diri. Karena sebuah cermin pun bersaksi, yang ditangkap mata bisa menua, julukan tampan berganti kerutan. Berbeda dengan kepribadian yang ia bawa dari lahir, sampai mati pun tetap begitu adanya, adanya begitu. Lah kok gitu?
Lihat saja pemuda mata panda, rata-rata bekerja keras hobinya. Hingga tampannya tertutup kantung hitam dibawah kelopaknya. Dalam pengecualian, begadang melembur pekerjaan, bukan begadang memodusi perempuan. Karena salah satu dari sekian tujuannya kerja pun untuk melamar sang pujaan, sebagai ajang pembuktian, bukan sebatas bualan, terlebih objek permainan.
Pemuda mata panda menjahit malasnya agar usahanya tak bolong-bolong. Sedikit penat, sedikit rehat, namun saat ia ingat tujuannya ia kembali bersemangat. Pemuda kok lemah,lemah itu bukan pemuda!
Kelak mata pandanya akan memudar ketika tujuannya tercapai, sukses ia gapai, skincare tak lagi terbengkalai. Pemuda mata panda akan begitu tampan hingga para manusia centil berlomba mendambai, bapak ibunya semakin bangga mencintai, dan orang-orang pun serempak menghargai. Begitulah duniamu diakui.
Yang tampan dan mapan, akan menjadi raja. Namun tetap saja, hanya raja berkepribadian baiklah yang semesta puja. Kau angkuh maka menyingkirlah, semesta tak menyetujui papanmu sekalipun dirimu pura-pura bersahaja.
Cr. Ottokim

Komentar
Posting Komentar