Rumah Redup



Sebelum petang, pukul 5 sore hari.


Wajah bulatnya ia tangkup, Kepul yang menguarkan aroma melati ia tiup, agar lidahnya tak lepuh ketika menyesap secangkir panas teh celup.

Dari balik jendela, hujan, ia menyaksikan segelintir orang berlari-lari. Mencari peneduh, merutuk rintik yang kian lama kian deras, kian keras dentingnya di genting.

Sinar matahari meredup, siang ini jatah si mendung. Disela orang-orang yang basah kuyup, ada yang senang karena petrikor ia hirup ketika dengan sengaja ia biarkan angin membawanya menyusup, ke sebuah rumah yang tampaknya tidak kalah redup.

Rumah itu adalah gambaran dirinya, yang kehilangan penerangannya.

Sang pemilik meninggalkannya, kenangan didalamnya ditinggalkannya.

Rumah yang semula terang, benderang, kini meremang, temaram.

Rumah yang semula bising tawa,ramai cerita, kini lengang, kelompang. Ruangnya luang, tempat biasa duduk berbincang kini tenang.

Rumah itu berdiri kukuh, tak runtuh, tapi tak utuh.

Pemiliknya pergi menutup pintu. Pamit. Usai berkata, “Jangan menungguku, pulangku bukan menujumu lagi.”

Air hujan yang menetes di kaca jendela ibarat air mata sebuah rumah yang inginnya mampu, tapi tak mampu mencegah pemiliknya tetap tinggal.

Rumah itu telah kosong. Seperti hatinya yang tak lagi berpenghuni.

Semudah itukah pergi, bertemu dan menetap pada rumah yang lebih mewah? Semudah itukah pergi, bertamu dan menyantap hidangan yang disuguh dia, seseorang lain yang bukan aku, yang katamu bersamanya hari-harimu akan lebih cerah?

Padahal mendung tak selamanya rundung, gelap tak selamanya senyap, jika kita bersedia melaluinya bersama, yang sayangnya kau tidak bersedia. Hingga hanya aku, yang melaluinya sendirian, rumah yang kehilangan penerangan, yang kehilangan angan-angan; akan menua bersama tapi kita tak lagi sama-sama.

Rumah yang redup, sempat membawa hidupku meredup. Lantas, akankah ada seseorang yang mengetuk pintu, yang dipersilakan masuk, bukan untuk sekadar singgah, tapi untuk bermukim dan memperbaiki lampu yang semula padam, ruang yang semula berserakan, menjadi rumah yang memiliki masa depan, ruang yang memiliki perbincangan akan impian; untuk saling menjaga sampai si jantung berhenti detaknya.

Jika ada kemarilah! Akan kusambut dengan hangat. Dan jika diizinkan, akan kupeluk dengan erat.

Sebab aku benci kepergian, aku benci seseorang yang mencandai perasaan, tetapi lebih benci mantan pemilik hati yang tak sanggup bertahan karena beralasan bosan.

Cr. Ottokim

Komentar