Self Esteem, Mainstream


Diantara sekian banyak pengertian Self Esteem, intisarinya adalah rasa penghargaan diri sebagai evaluasi positif individu terhadap dirinya.

Istilah mudahnya, seberapa besar kamu menyukai dirimu sendiri, lalu menghargai diri sendiri.


Banyak yang tidak tahu cara penghargaan diri itu bagaimana. Atau sebenarnya sudah banyak yang tahu, tetapi mereka tidak paham kinerja melakukannya bagaimana.
Istilah Self Esteem mungkin tidak asing lagi bagi generasi zaman sekarang, Mereka mengerti teorinya, entah dengan prakteknya.

Orang-orang sukses di belahan dunia kerapkali menyampaikan betapa pentingnya Self Esteem dalam kehidupan manusia, karena? Mereka sudah merasakan manfaatnya. Mereka menerapkannya sebagai kebiasaan, rutinitas yang berulang-ulang, dalam kurun setiap hari.

Pertanyaannya, bagaimana memulainya?

Bertindak.

Itu jawabannya.

Sayang seribu sayang, beberapa orang justru tak berkutik. Yang bertindak hanya otak; sibuk menjelajah pikiran, raga diam ditempat.

Melamun. Atau merenung?

Seringkali dalam otak, orang-orang berasumsi tentang apa tujuan ia hidup, apa tujuan hidupnya. Mengapa seperti ini, mengapa seperti itu.

Nge-blur.

Alias tidak jelas.

Mereka belum menitik fokuskan.

Sehingga tidak tahu apa yang ingin mereka bidik.

Tujuan hidup yang simpang siur itu memengaruhi pemikiran mereka. Pemikiran memengaruhi emosi mereka. Emosi memengaruhi tingkah laku mereka. Tingkah laku memengaruhi keputusan mereka. Keputusan memengaruhi pengalaman mereka. Dan jika pengalaman tak berjalan lurus, mereka cenderung menyalahkan diri sendiri. Mengapa tidak bisa mengemudikannya dengan benar? Mengapa mengambil lintasan yang salah? Mengapa, mengapa, dan mengapa.

Pertanyaan mengapa itulah yang mendorong adanya perasaan tidak puas, lantas menimbulkan sesal, mencipta kesal, dan melabeli diri sendiri dengan kosakata gagal. Dimana kata gagal merujuk pada rasa ‘ketidak-guna-an diri’;  "Mengapa aku tidak berguna?"  Yang berakibat dengan tidak bisa menghargai diri sendiri. Memupuk persepsi; kerja keras dirinya sia-sia, siap-siap depresi.

Itulah sebabnya peran Self Esteem sangat penting.

Untuk?

Mengganti rasa ‘ketidak-guna-an diri’ menjadi opsi terimakasih.

Terimakasih pada diri sendiri; terimakasih atas tekad, terimakasih atas kerja keras, terimakasih atas keringat, terimakasih atas semangat, terimakasih atas rahmat, dan terimakasih-terimakasih lainnya atas segala.

Dengan kalimat-kalimat itu, besar kemungkinan untuk memandang apa yang diri ini sudah lakukan bukan hanya sebelah mata. Kemudian mulai menghargai diri sendiri, bukan menghakimi diri sendiri.

Tahu kan? Kita sering menjadi hakim yang tidak adil untuk diri kita sendiri? Menuntut diri sendiri, menghukum diri sendiri, menyengsarakan diri sendiri dengan menjadi tersangka sekaligus korban secara bersamaan.

Oleh karena itu, salah satu manfaat paling nyata dari menghargai diri sendiri yaitu menjadi saksi untuk diri sendiri, bahwa apa yang kita lakukan, baik-buruk hasilnya, menandakan jika kita adalah manusia yang tidak sempurna. Yang harus belajar dari setiap peristiwa, menerima setiap peristiwa, mendoktrin semuanya akan baik-baik saja, dan mulai mengevaluasi.

Apa yang salah? Diperbaiki.

Apa yang kurang tepat? Direvisi.

Hingga step berikutnya adalah meyakinkan diri bahwa upaya-upaya—selama upaya itu positif—tidak pernah tidak berguna. Bagaimanapun hasilnya. Yang pada akhirnya, yang semula jatuh karena gagal bisa bangkit dan meroket.

Lalu step terakhir adalah meyakinkan diri sendiri bahwa kita itu berharga. Terlalu berharga untuk dispirited, downhearted, & hopeless.

Self Esteem, mainstream, karena manusia membutuhkannya. Untuk tetap hidup.

 Cr. OttoKim

Komentar