Ada dua insan manusia yang mematenkan sebuah kesepakatan. Berdua mengumbar janji, menyepele konsekuensi, dan menyanggah persepsi atas kemungkinan-kemungkinan dimasa depan.
Dua insan manusia itu sepakat menjadi sepaket. Yang awamnya disebut sepasang kekasih.
Salah seorang yang bergender pria terlebih dahulu menyuarakan aspirasi tentang kemauan menjalin hubungan. Pria itu menginvasi pikiran seseorang bergender wanita yang duduk di hadapannya, terhalang meja bundar dengan dua kopi diatasnya. Menginvasi pikiran dengan rayu dan diksi-diksi cinta yang mendayu-dayu, memikat hati si paras ayu melalui lihainya bibir itu dalam menjanjikan kebahagiaan, kelak.
Hati si paras ayu tersentuh dengan keseriusan yang mimik itu suguhkan. Senyum manis ia pamerkan sebelum mengangguk sebagai jawaban. Malu-malu namun antusias, menyambut rasa sampai lupa mengedip mata. Waktunya terasa melambat, dibalik degup jantungnya yang berdebar-debar. Membalas pengajuan "aku menyukaimu, maukah kamu menjadi kekasihku?" yang pria itu lontarkan dengan kata, "aku menyukaimu juga." Dan dialog itu sudah jelas menunjukan bagaimana mereka merombak pertemanan menjadi perkekasihan. Klise. Betul. Bagi oranglain yang menyaksikan interaksi itu. Tapi bagi mereka, istimewa. Hari pertama mereka berstatus, tentu istimewa.
Si paras ayu tiba-tiba takut, raut wajahnya serius. Ia memikirkan akan konsekuensi bahwa, yang sepasang pun bisa menjadi masing-masing dan kembali asing. Ia takut kata putus yang membuat kebahagiaan mereka di masa depan akan pupus.
Padahal tak sepatutnya ia begitu khawatir pada masa dimana hanya Tuhan yang tahu. Sepatutnya adalah, ia menjalani masa kini dengan baik-baik tanpa duga-duga yang buruk-buruk. Ia hanya perlu percaya dengan hatinya, dengan kekasihnya, dan dengan Tuhannya yang Maha menentukan alur kisahnya. Ia hanya perlu yakin, sebab tak ada hal tanpa risiko, tak ada hal tanpa jalan keluar. Seperti risiko putus, jalan keluarnya? Menemukan pengganti. Sebab tali yang putus jika ditambal sambung pun tidak akan sekuat pada awalnya.
Jika bukan jodohnya, ya sudah. Lepaskan.
Mudah dikatakan. Tapi tidak jika dilakukan.
Konsekuensi dari risiko putus cenderung rumit.
Bahkan ada yang gila jika ia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri, tidak bisa bermain logika, dan tidak bisa menerima realita. Miris, pemicunya apalagi jika bukan hati yang teriris akan janji-janji yang teringkar, afeksi-afeksi yang terbengkalai, kalimat-kalimat cinta yang menipu dan rencana masa depan yang tidak menuai nyata.
Tergantung.
Dua insan manusia itu sepakat menjadi sepaket. Yang awamnya disebut sepasang kekasih.
Salah seorang yang bergender pria terlebih dahulu menyuarakan aspirasi tentang kemauan menjalin hubungan. Pria itu menginvasi pikiran seseorang bergender wanita yang duduk di hadapannya, terhalang meja bundar dengan dua kopi diatasnya. Menginvasi pikiran dengan rayu dan diksi-diksi cinta yang mendayu-dayu, memikat hati si paras ayu melalui lihainya bibir itu dalam menjanjikan kebahagiaan, kelak.
Hati si paras ayu tersentuh dengan keseriusan yang mimik itu suguhkan. Senyum manis ia pamerkan sebelum mengangguk sebagai jawaban. Malu-malu namun antusias, menyambut rasa sampai lupa mengedip mata. Waktunya terasa melambat, dibalik degup jantungnya yang berdebar-debar. Membalas pengajuan "aku menyukaimu, maukah kamu menjadi kekasihku?" yang pria itu lontarkan dengan kata, "aku menyukaimu juga." Dan dialog itu sudah jelas menunjukan bagaimana mereka merombak pertemanan menjadi perkekasihan. Klise. Betul. Bagi oranglain yang menyaksikan interaksi itu. Tapi bagi mereka, istimewa. Hari pertama mereka berstatus, tentu istimewa.
Si paras ayu tiba-tiba takut, raut wajahnya serius. Ia memikirkan akan konsekuensi bahwa, yang sepasang pun bisa menjadi masing-masing dan kembali asing. Ia takut kata putus yang membuat kebahagiaan mereka di masa depan akan pupus.
Padahal tak sepatutnya ia begitu khawatir pada masa dimana hanya Tuhan yang tahu. Sepatutnya adalah, ia menjalani masa kini dengan baik-baik tanpa duga-duga yang buruk-buruk. Ia hanya perlu percaya dengan hatinya, dengan kekasihnya, dan dengan Tuhannya yang Maha menentukan alur kisahnya. Ia hanya perlu yakin, sebab tak ada hal tanpa risiko, tak ada hal tanpa jalan keluar. Seperti risiko putus, jalan keluarnya? Menemukan pengganti. Sebab tali yang putus jika ditambal sambung pun tidak akan sekuat pada awalnya.
Jika bukan jodohnya, ya sudah. Lepaskan.
Mudah dikatakan. Tapi tidak jika dilakukan.
Konsekuensi dari risiko putus cenderung rumit.
Bahkan ada yang gila jika ia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri, tidak bisa bermain logika, dan tidak bisa menerima realita. Miris, pemicunya apalagi jika bukan hati yang teriris akan janji-janji yang teringkar, afeksi-afeksi yang terbengkalai, kalimat-kalimat cinta yang menipu dan rencana masa depan yang tidak menuai nyata.
Sepaket itu sepakat menuju tujuan yang sama. Entah bagaimana perjalanan menuju tujuan itu. Apakah lancar, apakah terjal, apakah tersendat. Kemudian setelah sampai, apakah sepaket itu utuh, apakah lecet, apa malah hancur?
Tergantung.
Cr. OttoKim

Komentar
Posting Komentar