Body Positivity, Positive in Outlook

Mari bicara tentang body positivity, wadah baru mencintai diri sendiri.


Bukan narsisme. Bukan.

Melainkan manusia dan problematikanya yang tidak pernah usai.

Banyak standar-standar yang entah siapa penciptanya, entah bagaimana asal-usulnya, menekan manusia untuk menjadi sosok sempurna.

Standar-standar yang menuntut, standar-standar yang memprovokasi, standar-standar yang menghakimi.

Dimana manusia menjadi banyak ingin, banyak mau, tak merasa cukup, menjadi rakus, mengikuti  arus, menjelma menjadi diri yang bukan jati dirinya.

Dimana jika tidak, manusia membenci dirinya sendiri. Merasa tidak pantas disandingkan dengan manusia lain yang memenuhi standar tak tertulis itu. Merasa tidak layak. Percaya diri lenyap. Ciut nyali. Menjunjung minder. Gengsi, menangisi.

Bagaimana jika manusia mengubah pola pikir?

Yang perempuan menjadi cantik bukan karena standar. Yang laki-laki menjadi tampan bukan pula karena standar. Bukan sebagai ajang pementasan diri, tapi sebagai ajang pemantasan diri. Dimana upaya untuk perfect bukan untuk mengais puji, tapi supaya mensyukuri. Bukan untuk pamer diri, tapi untuk pamor diri. 

Dan itulah bentuk dari mencintai diri sendiri, alias lovers of themselves, respect to yourself, take care of yourself, no ashamed of yourself, and believe ourselves.

Jika tak mampu mencintai diri sendiri, bagaimana mampu mencintai orang lain?

Mata manusia memang senang sekali memandang yang sempurna-sempurna.  Tapi manusia tidak ada yang sempurna.

Mungkin ada yang lebih tepat untuk merevisi kalimat diatas.

Mata manusia memang senang sekali memandang fisik yang sempurna-sempurna. Paras yang sempurna-sempurna. Daya tarik tertuju pada wajah, pada bentuk tubuh, dan apa yang indera penglihatan tangkap.

Sehingga banyak mulut yang menceplos kritik dengan lihainya, tak memilah kata dengan cerobohnya, yang tak jarang menghadiahkan luka pada subyek-subyek kritikkan.

Dampak dari itu. Banyak manusia yang memilih menyeragamkan diri. Jika menarik itu putih, apapun dilakukan agar putih. Jika menarik itu langsing, apapun dilakukan agar langsing. Yang kurang ini melakukan itu untuk menjadi wow.

Di dunia nyata, mata-mata sibuk menelaah kekurangan sesama manusia lain. Mengintimidasi tindak-tanduk, cibir-cibir, lantas menjadikannya bahan buah bibir. Di dunia maya,  jempol-jempol ikut serta mengetik kritik tanpa titik, mengesampingkan empati, repost sana-sini.

Cemooh sadis untuk yang dianggap jelek.  Komentar manis untuk yang dianggap perfect.

Hei.

Tuhan saja tidak memiliki kosakata jelek ketika menciptakan makhluknya. Tuhan saja tidak membeda-bedakan rupa. Lantas mengapa makhluknya hobi judge-menjudge?

Andai standar itu dihapus, pengaruhnya?

Mungkin sila ke lima Pancasila akan berlaku; Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Bukan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Good-Looking.

Cr. Ottokim



Komentar